DaerahNasional

Konon Raden sepukuh putra Raden Bustaman Solo Surakarta

480
×

Konon Raden sepukuh putra Raden Bustaman Solo Surakarta

Sebarkan artikel ini

ZR Kediri – Dalam Album otobiografi pendiri pondok pesantren mahir Arriyadl , di pertengahan abad 19 kurang lebih tahun 1835 nan adalah syekh Imam Nawawi yang berasal kelahiran dari Kota Solo Jawa Tengah, data Sumber lain mengatakan, bahwa beliau berasal dari keturunan berdarah priayi dan ningrat Nama kecil beliau “Raden Sepukuh” yaitu putra Raden Bustaman, dulu seorang penghulu di Keraton Surakarta. Nama imam Nawawi bukan Nama kecilnya, melainkan gelar dari sahabat sahabatnya saat nyantri di Pondok pesantren panji Siwalan Sidoarjo Jawa Timur, karena keahlian dan penguasaan terhadap kitab kitab kuning khususnya yang dikarang oleh Syaikh Nawawi Al Bantani.

Sepulang (boyong ) dari pondok panji Siwalan beliau mendirikan Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung, Nama ringin agung sendiri punya kisah cerita yang sangat bersejarah semasa babat alas berdirinya dukuh tersebut. Di kala babat tanah itu minta ijin Mbah Wahab sebagai sesepuh ringinagung ada pohon ringan yang sangat besar sekali yang tidak bisa dirobohkan begitu saja melainkan perlu tirakat yang sangat penting sebagai wasilah untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Sang kyai bersama santri mengamalkan sholawat “allahumma sholli ala mohammad wasallim” yang di kenal dengan sebutan sholawat Ringinagung kurang lebih pada th 1870 M.

Di situs bangunan masjid Ringinagung berdiri kokoh kala itu tahun 1901 di tengah pondok pesantren mahir Arriyadl di masa kepengasuhan beliau ini santri mencapai kurang lebih 7000-an santri. Sebagaimana pondok pesantren lainnya, Pondok ringan agung Keling kepung pare Kediri ini fokus mengajarkan ilmu fiqih, tasawuf, ilmu alat (Nahwu Sharraf). Sekalipun ada yang mengenalnya dengan pondok ahli falak juga.

Kurang lebih tiga puluh lima tahun lamanya beliau mengabdikan pada santri dan masyarakat sekitarnya, kemudian sepeninggal beliau Syaikh Imam Nawawi, Kepengasuhan dilanjutkan oleh Kyai imam Bajuri, dilanjutkan zdurriyah beliau yaitu Kyai Imam Mukthi, Kyai Humaidi, kyai Zaid Abdul Hamid dan cucu-cucu zdurriyah beliau yang sampai saat ini bukan hanya melakukan pembaharuan di dalam pondok, melainkan juga berelasi dengan masyarakat, Bergaul dengan petani, pedagang, pejuang, penjahat, dan model apa dan siapapun beliau bisa.

Di masa setelah kepengasuhan beliau KH Zaed Abdul Hamid dan zdurriyah nya , Pesantren tersebut sempat mengalami penurunan jumlah santrinya, sampai beberapa tahun kemudian keluarga bersepakat menjadikan Kyai Hudzaifah atau yang lebih dikenal dengan Pak “LET” sebagai Pengasuhnya. Saat ini menurut informasi jumlah santri putra putri mencapai 3000 an santri, yang berada dibawah asuhan keluarga atau zdurriyah Pondok Pesantren Mahir Arriyadl.

Di samping ada pondok Induk dengan sistem pendidikan yang telah tertata klasikal rapi, ada beberapa pendidikan yang di luar pondok induk seperti Madrasah Tsanawiyah/MTs An-Nawawiyah dan asrama – asrama lainnya. Inilah sekilas sebagian sejarah pondok Mahir Arriyadl Ringinagung Keling Kepung Kediri Jawa Timur.
Dokumen Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung 2005, Kediri 7 Juni 2024/Sdq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *