HeadlinePilihan Editor

Rupiah Tersungkur, Rakyat Diminta Tetap Bersyukur. “Pekerja Menjerit Pemerintah Berkelit”

40
×

Rupiah Tersungkur, Rakyat Diminta Tetap Bersyukur. “Pekerja Menjerit Pemerintah Berkelit”

Sebarkan artikel ini

Bandungbarat 05 Juni 2026 – Kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat /Hari Jum’at, 05 Juni 2026 tembus di angka 18.028,.Rupiah.

Tentu ini adalah preseden buruk sepanjang sejarah akan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, Ditambah Nilai IHSG yang menurun ke angka 5.683,14 sungguh ironi Pungkas Kiki permana saputra. Kiki adalah aktivis serikat pekerja yang mana ia sebagai Ketua PC FSP RTMM-SPSI KBB dan Ketua DPC K SPSI KBB Sekaligus DANKORNAS SATGASSUS RTMM.

Ia menyampaikan keprihatinan akan tersungkur nya nilai tukar rupiah sa’at ini. Semoga Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dapat mengembalikan nilai rupiah seperti halnya ketika tahun 98/99 di era kepimpinan Presiden BJ.Habibie yang mana pada waktu itu Dolar tembus di angka 17.000 Rupiah dan kembali menguat menjadi 6.500 Rupiah / Dolar Amerika.

Menurut saya hancurnya rupiah sa’at ini bukan hanya karena dampak akibat perang Iran dan Amerika ditimur tengah atau perselisihan selat hormuz, tetapi ini murni kesalahan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis. Diantaranya Membuka keran impor secara ugal-ugalan tanpa perhitungan yang matang. Seperti impor bahan baku industri tekstil dan garmen serta energi. Komoditas terbesar meliputi mesin dan peralatan mekanik, perlengkapan elektrik, bahan bakar mineral (migas), besi baja, plastik, produk tekstil dan garmen serta produk pangan seperti serealia (gandum/beras), gula, dan kedelai.

Ditambah yang paling mencolok dan terbaru ketika pemerintah import mobil pickup dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Jadi jangan salahkan pola hidup ekonomi masyarakat Indonesia yang gemar dan ketergantungan dengan barang impor, ketika pemerintah nya memberi contoh terlebih dulu akan ketergantungan terhadap barang impor ketimbang barang lokal. Padahal kita yakin dan mampu untuk memproduksi secara mandiri.

Menurutnya ini juga bukan karena dampak ekonomi global, jangan dibiasakan cari kambing hitam untuk menambal kegagalan, jelas ini cerminan ketidak mampuan presiden prabowo subianto dalam mengelola negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan manusianya. karena sepandai apapun pembantu presiden dalam hal ini menteri keuangan. Kalau tidak didukung secara nyata oleh pemerintah yang bijak yaa percuma juga, itu hanya akan menjadi ilusi dan retorika semata. Imbuhnya

Ketika ditanya apa korelasinya serikat pekerja dengan nilai tukar rupiah ini, Kiki menjelaskan

Yaa jelas sangat mengikat dan korelasinya sangat melekat dengan ketenagakerjaan. Bayangkan ketika rupiah terpuruk seperti saat ini dengan otomatis pembelian bahan baku industri akan membengkak cos nya, lantas kebijakan yang akan dilakukan oleh pengusaha adalah efisiensi produksi. Dari sini sudah menjadi rahasiah umum pengusaha akan mengedepankan pekerja lah yang paling mudah dan aman untuk di efisiensi. Andai ini terjadi maka janji kampanye Prabowo-Gibran ketika memimpin akan mencetak 19jt lapangan pekerjaan, yang ada kebalikannya : mencetak 19jt masyarakat pengangguran korban PHK masal. Ini yang kita hindari dan harus menjadi perhatian khusus bersama. Ditambah daya beli masyarakat akan menurun karena harga harga kebutuhan pokok yakin akan naik.

Kiki menyarankan : Stop perjalanan dinas luar negeri dimulai dari presiden, dan menteri-menterinya. Ingat sekarang sudah jaman modern era teknologi tinggi, bisa mungkin tidak harus tatap muka langsung, bisa melalui virtual ketika ada pembahasan kenegaraan. Perampingan Kabinet Merah Putih Misalkan (Hapus Posisi Wakil Menteri & Badan yang tidak produktif) ini Akan Mengurangi Anggaran Belanja Negara tanpa disadari. Sekaligus memberikan contoh bijak kepada seluruh masyarakat Indonesia. Mungkin ini tindakan nyata dalam berjuang mengembalikan harga diri mata uang Indonesia secara global.

Selain itu stop juga keran impor barang barang jadi dari luar, karena ini salah satu bencana terhadap para pelaku usaha lokal. Kalau Indonesia mau maju Rupiah mau kuat Biasakan mencintai produk dalam negeri dan menghindari pembelian menggunakan mata uang asing. Kan simple sebetulnya masalahnya Pemerintah bisa konsisten tidak terhadap jiwa nasionalisme terhada bangsa dan negara. Terakhir Pemerintah jangan berstatemen yang sifatnya melukai perasaan masyarakat kecil seperti “Mau dolar naik masyarakat Desa kan tidak memakai Dolar” Menurut saya ini adalah celotehan yang tidak bermutu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *