ArtikelDaerahZona Reformasi Chanel

Peran Seorang Polisi bagi Masyarakat dan Keluarga: “Power Is For Service”

247
×

Peran Seorang Polisi bagi Masyarakat dan Keluarga: “Power Is For Service”

Sebarkan artikel ini

 

Zonareformasi.com, Jambi – Hujan baru saja reda ketika seorang pria berpakaian dinas, lengkap dengan topi dan sepatu hitam mengkilap, keluar dari rumah sederhana di sudut kota kecil di Jambi. Dia bukan sekadar aparat penegak hukum. Di tengah kerasnya tugas dan terpaan stigma buruk terhadap institusi yang ia bela, pria yang kami samarkan dengan nama *Bripka Raka* ini memilih untuk menunjukkan wajah lain dari sosok polisi: hangat, melayani, dan mencintai.

Bripka Raka bukan tokoh besar yang biasa tampil di layar kaca. Namun, kisah pengabdiannya menyimpan pelajaran mendalam tentang makna sejati dari semboyan yang ia pegang teguh, Power Is For Service. Di satu sisi, ia berdinas sebagai anggota unit Binmas di salah satu Polres di Provinsi Jambi, menjalankan tugas pembinaan dan pendekatan kepada masyarakat. Di sisi lain, ia adalah suami dari seorang guru honorer dan ayah dari dua anak yang sedang mengenyam pendidikan di bangku dasar.

Setiap pagi, Bripka Raka bangun lebih awal dari anggota keluarga lainnya. Di dapur kecil yang remang-remang, ia menyeduh kopi untuk istrinya yang juga bersiap menuju sekolah tempatnya mengabdi. Dalam diam, ia menyiapkan bekal sederhana untuk anak-anaknya. Tak banyak kata, tapi dalam setiap gerakan, ia menunjukkan cinta yang tak bersyarat.

Di kantor, Bripka Raka dikenal sebagai polisi yang humanis. Ia jarang terlihat duduk lama di belakang meja. Sebaliknya, ia lebih sering berada di lapangan, menyambangi warga, menyapa para pedagang kaki lima, atau sekadar membantu seorang ibu tua menyeberang jalan. Ia percaya, tugas kepolisian bukan sekadar menangkap pelaku kejahatan, tetapi menciptakan rasa aman dan kedekatan emosional dengan warga.

“Saya bukan siapa-siapa, saya hanya ingin menjadi orang yang berguna,” katanya saat kami mewawancarainya secara eksklusif.

Di desa yang menjadi wilayah binaannya, Bripka Raka memprakarsai program Warung Jumat Berkah, sebuah kegiatan berbagi makanan gratis kepada masyarakat kurang mampu setiap pekan. Dengan menggandeng para dermawan lokal, ia membentuk komunitas kecil yang kini berkembang menjadi gerakan sosial. Program ini tidak hanya mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat, tetapi juga menginspirasi banyak pemuda untuk turut aktif membantu sesama.

Suatu ketika, saat program berbagi makanan berlangsung, datang seorang nenek tua bernama Mak Inah yang tampak lunglai dan kelelahan. Bripka Raka langsung menuntunnya duduk, memberikan air minum, dan menyuapi makanannya. Tak satu pun kamera menyorot. Tidak ada panggung. Tapi di situlah nilai kemanusiaan ditunjukkan.

“Pak Raka itu bukan hanya polisi, tapi juga anak bagi kami warga sini,” ujar Mak Inah, dengan mata berkaca-kaca.

Bagi keluarga kecilnya, Bripka Raka adalah panutan. Meski sering pulang larut karena tugas, ia tak pernah melewatkan peran sebagai ayah. Ia mengajarkan anak-anaknya nilai kejujuran, kerja keras, dan rendah hati. Di hari libur, ia meluangkan waktu untuk mengantar anak sulungnya ke perpustakaan kota, sambil membaca buku bersama.

“Ayah bilang, walau beliau punya pangkat, tapi kita semua tetap harus belajar menghargai orang lain, sekecil apapun perannya,” kata si sulung, sambil tersenyum malu-malu.

Bagi istrinya, ia bukan hanya pasangan hidup, tapi juga sahabat dalam suka duka. “Hidup kami sederhana, kadang serba kekurangan, tapi kami bahagia karena tahu suami saya bekerja dengan hati,” ujar sang istri.

Menjadi polisi tidak mudah, apalagi di tengah tuntutan ekonomi dan tekanan sosial. Bripka Raka pernah menerima godaan dari seorang pengusaha nakal yang ingin “memuluskan urusan” lewat jalur belakang. Iming-iming uang puluhan juta nyaris menggoyahkan hatinya. Namun ia memilih melapor dan menolak dengan tegas.

“Saya tahu, saat saya tergelincir, bukan hanya nama saya yang hancur, tapi juga kepercayaan anak dan istri saya,” ucapnya.

Keteguhan hati itu membuatnya dihormati rekan sejawat dan dicintai masyarakat. Ia menjadi contoh nyata bahwa integritas bukan sekadar kata, tapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Dalam sebuah acara pembinaan remaja di balai desa, Bripka Raka pernah berkata:

“Kekuatan yang kita miliki bukan untuk ditakuti, tapi untuk digunakan dalam melindungi, membantu, dan melayani. Jika kita mampu membuat satu anak muda terhindar dari narkoba, itu sudah cukup berarti.”

Kata-kata itu terekam jelas di benak banyak orang yang hadir. Sebab, mereka tahu, yang berbicara bukan hanya polisi, tapi seorang ayah, seorang anak bangsa, yang menyerahkan kekuatannya demi pelayanan.

Kisah Bripka Raka bukan sekadar cerita tentang seorang aparat. Ini adalah refleksi tentang harapan dan keteladanan. Di tengah berbagai pemberitaan negatif tentang oknum aparat, masih ada sosok seperti dia yang hadir sebagai penyejuk.

Kita mungkin tak pernah tahu siapa nama aslinya, di mana tepatnya ia bertugas. Namun sosoknya mengajarkan kita satu hal: bahwa kekuasaan, dalam bentuk apapun, sejatinya adalah alat untuk melayani.

Melalui dedikasi yang senyap tapi bermakna, Bripka Raka mengingatkan kita bahwa seorang polisi adalah bagian dari masyarakat. Ia lahir dari rahim ibu biasa, dibesarkan dalam keluarga biasa, dan memilih menjadi luar biasa lewat pengabdiannya.

Dalam dunia yang penuh dinamika dan tekanan, kisah seperti ini menjadi oase. Ia mengajarkan bahwa menjadi polisi bukan sekadar soal seragam dan senjata, tapi tentang hati yang mau melayani.

“Power is for service” bukan sekadar motto – ia adalah panggilan jiwa, yang dijawab dengan kerja nyata.

Bripka Raka bukan pahlawan super. Tapi mungkin, di mata anak-anaknya, istrinya, dan masyarakat yang ia layani, ia adalah sosok yang pantas disebut sebagai pahlawan sejati.(Ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *