MOROWALI, SULTENG – Di tengah keberagaman agama dan budaya yang hidup harmonis di Desa Laantula Jaya, Kecamatan Wita Ponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah hadir sosok penyuluh agama yang menginspirasi melalui kerja nyata di akar rumput.
Siti Lailatul Mukarromah, M.H yang akrab disapa Laila, Penyuluh Agama Islam di KUA Wita Ponda, berhasil menorehkan prestasi yang sangat membanggakan sebagai finalis tingkat nasional mewakili Provinsi Sulawesi Tengah dalam ajang Penyuluh Agama Islam Award 2025.
Ia menjadi salah satu finalis yang berhasil lolos setelah melalui tahapan seleksi ketat dari tingkat kabupaten hingga provinsi.Dengan mengangkat tema “Merawat Toleransi, Menyemai Perdamaian”,
Laila sendiri menampilkan model penyuluhan berbasis praktik sosial yang langsung dari kehidupan masyarakat Desa Laantula Jaya—wilayah dengan karakter multikultural yang kental.Sebagai desa yang dihuni oleh pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu Desa Laantula Jaya menjadi laboratorium sosial penting dalam penerapan nilai-nilai moderasi beragama.
Melalui keterangan resminya kepada Media Zonereformasi.com Kamis (19/06/2025) Laila mengatakan bahwa dirinya membangun komunikasi yang harmonis dan menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan lintas iman, serta menanamkan nilai kepedulian sejak usia dini melalui lembaga pendidikan non formal.
“Sejak tahun 2019, saya menjadikan TPQ Nurul Iman bukan hanya sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter dan kerja sama sosial lintas agama. Berbagai kegiatan yang dijalankan mengedepankan nilai toleransi, kepedulian, dan partisipasi aktif anak-anak serta warga desa.
Program-program yang telah terlaksana antara lain:
Penanaman Pohon Lintas Agama – Mengajarkan kolaborasi dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Gerakan Peduli Sampah dan Lingkungan – Menanamkan kesadaran bahwa kebersihan adalah bagian dari iman dan tanggung jawab sosial bersama.
Bakti Sosial Lintas Agama – Mendorong keterlibatan antarumat dalam aksi nyata membantu sesama.
Program Sedekah Kamis – Melatih anak-anak untuk berbagi dan peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.
Kegiatan Berbagi dan Peduli Sesama – Mempraktikkan nilai kasih sayang dalam bentuk bantuan dan perhatian terhadap warga yang membutuhkan.
Berbagi Takjil di Bulan Ramadhan – Menguatkan nilai kebersamaan antarwarga, terutama saat bulan suci.
“TPQ menjadi titik awal pembinaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, peka, dan siap hidup berdampingan dengan siapa pun,” jelas Laila.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Morowali, Dra. Hj. Marwiah, M.Si, memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap capaian ini.
“Ini adalah kebanggaan bagi Kemenag Morowali. Saudari Lailatul Mukarromah merupakan teladan bagi para penyuluh agama yang tidak hanya aktif di lapangan, tetapi juga membawa nama baik daerah dalam ajang nasional. Semoga lolos hingga babak final dan menginspirasi penyuluh lainnya,” tutur Marwiah.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Wita Ponda, Suhaif, S. E.I, menilai bahwa Laila adalah salah satu penyuluh yang mampu menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam bentuk gerakan sosial yang berdampak langsung.
“Ustadzah Laila ini adalah contoh penyuluh yang tidak hanya hadir saat diminta, tapi tumbuh bersama masyarakat inovatif, kolaboratif, dan peka terhadap tantangan lokal. Kami bangga dan mendukung penuh keterlibatan beliau di tingkat nasional,” tutur Suhaif.
Dijelaskan Suhaif Keberhasilan Siti Lailatul juga tidak lepas dari dukungan masyarakat dan pemerintah desa. Kepala Desa Laantula Jaya, Parianti, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Laila yang telah berkontribusi nyata dalam menjaga keharmonisan sosial.
“Kami sangat bangga atas capaian yang diraih oleh Ustadzah Laila. Ia bukan hanya membawa nama desa ke tingkat nasional, tetapi juga memperlihatkan bahwa Laantula Jaya adalah desa yang hidup dalam semangat toleransi dan kebersamaan. Beliau adalah teladan bagi generasi muda dan menjadi bukti bahwa desa bisa menjadi contoh perdamaian bagi Indonesia,” jelasnya.
Menurut Suhaif, selain aktif di lingkungan pendidikan dan sosial, Laila juga menjadi penghubung antarwarga dalam berbagai kegiatan keagamaan, serta fasilitator komunikasi saat terjadi perbedaan pandangan dalam masyarakat.Ajang Penyuluh Agama Islam Award 2025 menurut Laila bukan hanya tentang penghargaan, melainkan sarana berbagi praktik baik dan memperkuat jaringan antarpenyuluh di seluruh Indonesia.
“Saya berharap apa yang kami lakukan di desa ini bisa menjadi contoh sederhana bahwa moderasi beragama itu bisa dimulai dari tindakan-tindakan kecil, yang dilakukan terus-menerus dan melibatkan semua lapisan masyarakat,” katanya.
Suhaif menambahkan selain aktif di lapangan, Siti Lailatul juga terus memperkuat kapasitas diri dalam bidang perdamaian dan penyelesaian konflik. Ia merupakan alumni Sekolah Penyuluh dan Penghulu Aktor Resolusi Konflik 2024, dan secara konsisten mengikuti pelatihan resolusi konflik yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga keagamaan dan kemasyarakatan.Atas keaktifannya tersebut, kini Siti dipercaya sebagai salah satu Aktor Resolusi Konflik Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. Keberadaan Siti sebagai mediator di tengah masyarakat multikultural menjadi nilai tambah yang memperkuat efektivitas penyuluhannya.
Lebih jauh Suhaif mengatakan, Ustazah Siti Lailatul Mukarromah juga dikenal sebagai sosok penyuluh yang memiliki latar belakang akademik yang kuat. Ia adalah alumni Pascasarjana UIN Walisongo Semarang dengan konsentrasi Ilmu Falak. Keahliannya di bidang ini mengantarkannya aktif di berbagai forum ilmiah, termasuk sebagai anggota Pusat Studi Falakiyah Sulawesi Tengah, di mana ia terlibat dalam edukasi kalender hijriyah, rukyat hilal, dan pelatihan dasar astronomi Islam.
“Ilmu falak memberi saya cara pandang yang lebih ilmiah dalam memahami tanda-tanda alam dan waktu ibadah. Tapi nilai paling penting adalah bagaimana ilmu ini bisa saya manfaatkan untuk masyarakat secara praktis,” ungkapnya.
Dengan pendekatan yang berbasis pada praktik, didukung kemampuan akademik serta pelatihan resolusi konflik, Siti Lailatul Mukarromah menjelma menjadi contoh penyuluh agama yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ia hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penggerak, penengah, dan pendamping yang mampu merawat keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.
Dari Desa Laantula Jaya, ia membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa penyuluh agama adalah ujung tombak merawat damai, menjaga akhlak sosial, dan menghidupkan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir Laila menyampaikan harapannya dalam mengikuti kegiatan Penyuluh Agama Islam Award 2025 ini bukan semata-mata untuk meraih prestasi pribadi, tetapi lebih sebagai ikhtiar memperkuat eksistensi peran penyuluh agama di Tengah dinamika Masyarakat yang terus berkembang.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap dapat: 1. Belajar dan bertumbuh bersama para penyuluh terbaik dari seluruh Indonesia, saling menginspirasi dalam pengabdian dan inovasi, 2. Mengangkat potensi daerah – Khususnya Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah – dalam hal penguatan moderasi beragama, pemberdayaan umat, dan pengembangan literasi keagamaan, 3. Memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, dengan menunjukan bahwa penyuluh agama adalah garda terdepan dalam menjaga kerukunan, membina moral, serta mmebangun karakter Masyarakat. Semoga keikutsertaan say aini menjadi jalan keberkahan, bukan hanya bagi diri saya pribadi, tetapi juga bagi lembaga, Masyarakat, dan umat yang saya layani.” Ungkapnya.
Dengan keberhasilannya lolos ke tingkat nasional, Laila membawa pesan penting: bahwa desa-desa di Indonesia memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran hidup bersama dalam keberagaman. Melalui peran penyuluh agama yang aktif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, nilai-nilai keagamaan dapat hadir secara fungsional, solutif, dan membangun jembatan harmoni sosial.***












