Kayuagung, OKI – Sangat disayangkan, permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan secara terbuka dan transparan justru menjadi sorotan serius. Kepala Sekolah SMPN 5 Kayuagung, Riana Dwi, diduga menghindari wartawan dengan bersembunyi di dalam ruang kantornya saat hendak dimintai klarifikasi, pada Senin (9/3/2026).
Kedatangan wartawan ke sekolah tersebut bertujuan untuk meminta penjelasan terkait dugaan adanya penyelewengan penggunaan anggaran Dana BOS tahun 2024–2025 di lingkungan SMPN 5 Kayuagung. Namun sangat disayangkan, hingga saat ini pihak kepala sekolah belum memberikan keterangan resmi kepada awak media.
Adapun beberapa dugaan yang menjadi sorotan terkait pengelolaan Dana BOS tersebut antara lain :
1.Tahun 2024 tahap 1 Rp.254.100.000,pengembangan perpustakaan Rp.53.540.600,pemeliharaan Sapras sekolah Rp.49.529.980,pembayaran honor guru Rp.57.660.000,Tahap 2 Rp.243.875.624,administrasi kegiatan sekolah Rp.40.102.900,pemeliharaan sapras sekolah Rp.92.332.710,pembayaran honor Rp.51.060.000.
2.Tahun 2025 tahap 1 Rp.238.700.000,pengembangan perpustakaan Rp.43.064.100,administrasi kegiatan sekolah Rp.31.460.500,sapras sekolah Rp.73.107.600,pembayaran honor Rp.50.600.800.Tahap 2 Rp.238.699.670,administrasi kegiatan sekolh Rp. 43.999.700,pemeliharaan sapras sekolah Rp.19.262.000,pembayaran honor Rp.44.700.000.
3.Dugaan pengadaan barang dan perlengkapan sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
4.Dugaan mark-up anggaran pada beberapa kegiatan sekolah.
5.Dugaan tidak adanya papan informasi atau laporan terbuka terkait realisasi penggunaan Dana BOS.
6.Dugaan pengelolaan anggaran yang tidak melibatkan unsur pengawasan secara maksimal.
Jangankan memberikan keterangan secara langsung kepada wartawan, alasan yang disampaikan pihak sekolah justru menimbulkan tanda tanya. Salah satu pihak humas SMPN 5 Kayuagung menyampaikan bahwa kepala sekolah sedang tidak berada di tempat.
“Kepala sekolah sedang berada di Palembang mengantar orang tuanya, kemungkinan kembali ke sini agak siang,” ujar salah satu perwakilan humas sekolah kepada awak media.
Namun keterangan tersebut diduga tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan pantauan awak media, mobil yang biasa digunakan oleh kepala sekolah terlihat terparkir di garasi sekolah.
Hal tersebut juga diperkuat oleh keterangan salah seorang warga di sekitar sekolah yang enggan disebutkan namanya. Ia menyebutkan bahwa kepala sekolah sebenarnya berada di lingkungan sekolah pada saat wartawan datang.
“Setahu saya tadi memang ada di sekolah, mobilnya juga ada di sini,” ungkap warga tersebut.
Sikap tertutup ini justru menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Seharusnya sebagai pimpinan lembaga pendidikan, kepala sekolah dapat bersikap terbuka dan memberikan klarifikasi terkait berbagai pertanyaan yang muncul mengenai pengelolaan anggaran sekolah.
Awak media berharap pihak SMPN 5 Kayuagung, khususnya kepala sekolah, dapat segera memberikan penjelasan resmi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat serta demi menjaga transparansi pengelolaan anggaran pendidikan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepala sekolah Riana Dwi belum memberikan keterangan ataupun klarifikasi resmi kepada awak media.












