Jawa Barat – Pemandangan tidak biasa tersaji di Alun-Alun Indramayu, Jawa Barat, pada Senin, 17 Agustus 2026. Tak ada lagi tenda megah atau deretan kursi empuk bagi para pejabat. Di bawah terik matahari pagi, Bupati Indramayu Lucky Hakim memilih berdiri sejajar bersama ratusan peserta upacara dari detik pertama hingga akhir rangkaian acara.
Filosofi “Sama-Sama Panas, Sama-Sama Pegal”
Keputusan ini bukanlah hasil readiness sesaat. Lucky lebih dulu berkoordinasi dan meminta persetujuan jajaran Forkopimda, perangkat daerah, anggota DPRD, hingga instansi vertikal untuk menanggalkan fasilitas istimewa tersebut.
”Kami sengaja membuat tamu undangan tanpa tenda, sehingga bisa sama-sama merasakan nikmatnya matahari pagi seperti peserta upacara lainnya,” ujar Lucky usai upacara.
Bagi Lucky, pesan yang ingin disampaikan sangatlah membumi. Ia ingin mengingatkan kembali nurani para abdi negara tentang esensi sejati dalam melayani masyarakat—sesuatu yang kerap luntur ketika seseorang telah menduduki kursi kekuasaan.
”Kita itu dibayar oleh rakyat, maka kita harus layani rakyat sebaik mungkin. Kita sama-sama panas, kita sama-sama pegal,” tegasnya.
Insiden Kecil di Tengah Kekhidmatan Upacara
Di balik suksesnya acara, sebuah momen tak terduga sempat mencuri perhatian. Di tengah detik-detik pengibaran bendera Merah Putih, seorang perempuan yang diduga mengalami gangguan jiwa (ODGJ) secara tiba-tiba menerobos barisan dan menghampiri podium tempat Lucky berdiri sebagai inspektur upacara.
Berkat kesigapan petugas gabungan dari TNI, Polri, and Satpol PP, perempuan tersebut langsung diamankan sebelum sempat menyentuh bupati. Evakuasi berjalan humanis dan langsung dilarikan ke RSUD Indramayu. Uniknya, insiden ini berlangsung begitu cepat sehingga sebagian besar peserta upacara tidak menyadarinya karena konsentrasi penuh tertuju pada sang saka merah putih.
Inspirasi yang Menular ke Daerah Lain
Gebrakan tanpa sekat ini ternyata juga bergema di wilayah lain pada hari yang sama. Di Jember, Jawa Timur, langkah serupa diambil oleh pemerintah setempat. Uniknya, fasilitas tenda dan kursi yang tersedia justru diperuntukkan khusus bagi para veteran—sosok paling berjasa yang memang paling berhak mendapatkan penghormatan tertinggi.
Aksi di Indramayu dan Jember memberikan teladan nyata bahwa perubahan positif tidak selalu menuntut regulasi yang rumit ataupun anggaran tambahan yang membengkak. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian moral untuk tidak berdiri di tempat yang lebih tinggi dari rakyat yang dilayani, setidaknya untuk satu hari yang paling bermakna bagi bangsa.












