HeadlinePilihan Editor

Jolly Sanggam, SE: Dolar Rp18.000 Menjadi Alarm Serius bagi Industri, Investasi, dan Nasib Pekerja Indonesia

11
×

Jolly Sanggam, SE: Dolar Rp18.000 Menjadi Alarm Serius bagi Industri, Investasi, dan Nasib Pekerja Indonesia

Sebarkan artikel ini

Jakarta, 4 Juni 2026 – Kepala Pusat Kajian Ekonomi, Sosial, dan Ketenagakerjaan PP FSP RTMM-SPSI, Jolly Sanggam, SE, menyatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat merupakan sinyal yang harus diwaspadai oleh pemerintah, pelaku usaha, investor, dan kalangan pekerja.

Menurut Jolly Sanggam, SE, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan di pasar keuangan, tetapi juga dapat menjalar ke sektor riil melalui kenaikan biaya produksi, meningkatnya harga barang konsumsi, serta menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi stabilitas hubungan industrial.

“Perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi lonjakan biaya produksi. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini dapat memicu efisiensi usaha, penundaan investasi, bahkan berisiko mengurangi kesempatan kerja,” ujar Jolly Sanggam, SE.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Bandar Lampung tersebut menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah juga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan pekerja. Kenaikan harga bahan baku dan barang impor berpotensi mendorong inflasi yang pada akhirnya menggerus kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Daya beli pekerja harus menjadi perhatian utama. Jika harga kebutuhan pokok terus meningkat sementara pendapatan tidak mengalami penyesuaian yang memadai, maka kesejahteraan pekerja dan keluarganya akan semakin tertekan,” katanya.

Meski demikian, Jolly menilai terdapat peluang bagi sektor industri yang berorientasi ekspor. Produk Indonesia dapat menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga dalam dolar relatif lebih murah. Namun, peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Jolly Sanggam, SE, yang juga merupakan Pekerja Teladan Provinsi Lampung Tahun 1998, menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam mengambil keputusan bisnis. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperkuat daya tahan industri dalam negeri.

PP FSP RTMM-SPSI mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui pengendalian inflasi, penguatan nilai tukar rupiah, peningkatan penggunaan bahan baku lokal, serta kebijakan yang mampu melindungi daya beli pekerja dan keberlangsungan usaha.

“Nilai tukar dolar yang menembus Rp18.000 harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Fokus kita tidak boleh hanya pada stabilitas ekonomi makro, tetapi juga pada perlindungan lapangan kerja, peningkatan produktivitas industri, dan terjaganya kesejahteraan pekerja Indonesia,” tutup Jolly Sanggam, SE.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *