HeadlinePilihan Editor

DPD LSM TAMPERAK : Bebasnya Peredaran Obat Daftar Golongan G Diduga Salah Satu Pemicu Bullying di Sekolah

1144
×

DPD LSM TAMPERAK : Bebasnya Peredaran Obat Daftar Golongan G Diduga Salah Satu Pemicu Bullying di Sekolah

Sebarkan artikel ini

Tangerang – Maraknya kasus Bullying di sekolah tentu menjadi perhatian kita semua dan menjaga generasi penerus bangsa selain tanggung jawab orang tua juga merupakan tanggung jawab kita semua dari maraknya dan bebasnya penjualan obat golongan G seperti exsimer dan tramadol.

Beredar informasi bahwa toko toko penjual obat golongan G (eximer dan Tramadol) akan kembali buka di kabupaten Tangerang setelah beberapa pekan ini tutup

Ketua LSM TAMPERAK DPD Kabupaten Tangerang Kuat Rubianto mengatakan,” kita sebagai lembaga kontrol sosial akan terus memantau toko toko penjual exsimer dan tramadol agar tidak kembali buka dikabupaten Tangerang ini, pasalnya saya menduga pemicu Bullying di kalangan pelajar dan tindakanq arogansi anak anak ABG diduga akibat mengkonsumsi obatq golongan G tersebut ,Rabu 4 Oktober 2024.

Hasil pantauan tim LSM TAMPERAK bahwa mayoritas pembeli eximer dan tramadol adalah anak anak sekolah, tentunya ini harus menjadi perhatian kita semua

Saya berharap kepada aparat penegak hukum (APH), Masyarakat dan tokoh agama dan para pemangku kebijakan turut serta untuk menindak dimana ada toko penjual exsimer dan tramadol, mari kita selamatkan anak anak kita sebagai generasi penerus bangsa agar tidak terjerumus dan tidak membeli dan mengkonsumsi obat obatan tersebut,”Ucapnya

Kuat Rubianto juga mambahkan bahwa ada banyak faktor Penyebab Bullying pada Anak dari mengkonsumsi exsimer dan tramadol yang berakibat si pelaku berani untuk melakukan tindakan tindakan diluar nalar kita

Namun yang sering ditemukan yaitu adanya ketidakseimbangan antara pelaku dengan korban. Bisa berupa ukuran badan, fisik, kepandaian komunikasi, gender hingga status sosial. Selain itu, adanya penyalahgunaan ketidakseimbangan kekuatan untuk kepentingan pelaku dengan cara mengganggu atau mengucilkan korban.“Penyebab lain yang menyertai biasanya terkait lingkungan pergaulan yang salah dan pengaruh teman sebaya dan lain-lain. Karena untuk usia SD, anak ada di fase ketekunan versus rendah diri. Percaya diri vs rendah diri sering terjadi di sekolah,” ujar dosen di FIP tersebut.

Selain itu, bullying kurang mendapat perhatian sehingga jatuh korban. Perhatian yang kurang ini bisa disebabkan karena memang efek bullying yang tidak tampak secara langsung. Juga tidak terendus karena banyak korban yang tidak melapor; entah itu karena takut, malu atau diancam maupun karena alasan yang lain.Bullying secara kasat mata tampak seperti guyonan biasa kepada anak-anak. Jangan kira ini tidak menimbulkan dampak serius. Ejekan atau olokan secara verbal sangat berbahaya bagi anak.“Biasanya orang tua dan guru menganggap teguran sudah cukup untuk mengakhiri candaan di sekolah. Padahal, ini sebenarnya luka psikis atau emosional yang lebih dalam serta menyakitkan dan efeknya bisa jangka panjang,” tegasnya

Kemudian juga karena minimnya pengetahuan guru dan orang tua tentang bullying dan dampaknya terhadap anak. Pengetahuan ini sangat penting untuk melihat apakah masalah di sekitar anak serius atau tidak,” Tutup Kuat Rubianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *