DaerahHeadlineNasional

Catatan Kehidupan Masyarakat kulligang dan Bi’ang wala

611
×

Catatan Kehidupan Masyarakat kulligang dan Bi’ang wala

Sebarkan artikel ini

AlOR- PANTAR, itulah nama salah satu Pulau terluar di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mungkin sebagian besar orang Indonesia belum pernah mendengar nama pulau ini. Pulau Pantar merupakan bagian dari Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Secara administrasi Pantar terbagi dalam 5 Wilayah yaitu: Kecamatan Pantar, Kecamatan Pantar Timur, Kecamatan Pantar Tengah, Kecamatan Pantar Barat dan Kecamatan Pantar Barat Laut.

Sudah lebih dari 40 tahun sejak dilahirkan, saya hidup dan menjadi bagian dari pulau Pantar. Saya dilahirkan di sana, dibesarkan di sana, dididik di sana, dan tali pusatpun tertanam di tengah-tengah Tanah Pantar.
Cinta, kasih sayang, harapan, karakter saya semuanya terbentuk 100% di Kampung halaman saya, Tanah Leluhur Kulligang, Latuna, Desa Kalondama.
Dalam menjalani kehidupan, saya sering terlibat dalam kerja sosial termasuk mempromosikan Pulau Pantar melalui hal-hal kecil yang bisa saya lakukan sesuai talenta yang TUHAN taruh dalam diri saya.
Kami Orang Pantar memiliki banyak tradisi yang diwariskan turun temurun sejak dahulu kala. Ingin sekali saya ceritakan secara lengkap di media ini ataupun diceritakan dalam sebuah buku, karena akan sangat indah jika semua itu bisa diceritakan dalam sebuah tulisan dan dibukukan, namun semua itu tentunya membutuhkan banyak hal terlebih waktu, tenaga dan juga biaya.
Catatan ini merupakan catatan kehidupan kami orang Pantar terkhusus dua suku besar yaitu Kulligang dan Bi’ang wala. Dua suku besar ini adalah Masyarakat Kristen di Pantar Tengah (Bi’ang wala) dan masyarakat Kristen di Pantar Barat dan Pantar Barat Laut (Kulligang). Catatan Kehidupan yang menjadi tradisi kedua suku besar ini menurut saya adalah tradisi terbaik, dimana jika tradisi ini sudah bisa dilakukan oleh seorang laki-laki remaja, maka laki-laki tersebut dianggap sudah bisa bertanggung jawab, sehingga bisa dikawinkan atau dinikahkan dengan seorang perempuan.
Saya memilih dan menulis dua tradisi kehidupan ini sebagai tradisi terbaik, dengan harapan semoga generasi muda bisa mempertahankan nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral yang ada di dalam catatan kehidupan ini. Dua catatan kehidupan yang saya ambil yaitu antara lain; Tradisi Bertani dan Tradisi Berburu.

Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan terlebih dahulu tradisi Bertani orang Pantar.
Orang Pantar bertani di ladang/kebun. Orang Pantar menanam padi di kebun bukan di sawah, petani Pantar hanya mengandalkan hujan sehingga padi hanya ditanam satu tahun satu kali yaitu pada musim hujan bulan November sampai dengan pertengahan bulan Desember.
Orang Pantar mempersiapkan ladang atau kebun dikerjakan secara beramai-ramai, saling membantu dengan sistem yang mereka sebut sambung kaki atau dalam bahasa Lamma, disebut tauta galu. Jadi kalau hari ini kita sudah membantu seseorang, seseorang itu kemudian harus membantu orang lain. Demikian dilakukan sampai semua kebun-kebun selesai dibersihkan, dan siap untuk ditanami benih padi.
Saat musim hujan tiba, orang Pantar mulai menabur benih padi di ladang mereka. Sistem menanam padi juga dilakukan secara beramai-ramai sebagaimana yang biasa mereka lakukan yaitu sambung kaki atau tauta galu.
Menanam padi dibutuhkan dua tim yaitu; tim penggembur atau dalam bahasa Lamma disebut si kausing. Si kausing dilakukan oleh laki-laki, dan tim Penabur bibit yaitu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Semua tim bekerja sama sampai bibit padi selesai ditanami.
Dalam tradisi menanam padi, kebun milik raja atau kepala suku biasanya dilakukan dengan cara yang berbeda, jika kebun yang dikerjakan itu besar (Luang pinni) maka proses tanam dilakukan dengan cara yang berbeda yaitu dengan upacara adat yang disebut dengan bunni wang tunggu using/bunni wang leli. Tanam adat ini dilakukan melibatkan semua suku di suatu kampung. Dalam melakukan tanam adat ini dipertontonkan beberapa tarian atau atraksi-atraksi adat yaitu; Tunggu using, peda gra mural (saling potong menggunakan parang) dan taputang (saling pukul menggunakan belahan bambu) Pertunjukan ini dilakukan antar suku lawan suku. Orang-orang saling pukul bahkan bisa saling melukai tanpa ada amarah dan tanpa ada dendam. Atraksi ini biasanya dilakukan oleh orang-orang terpilih/profesional dalam masing-masing suku.
Setelah atraksi-atraksi budaya selesai, mereka duduk di tempat makan yang telah di sediakan, yaitu susunan batu berbentuk persegi panjang, yang disebut Laggang. Laggang/tempat makan ini dihiasi dengan bambu dan buluh. Bambu dan buluh yang ditanam mengelilingi laggang atau tempat makan itu seperti umbul-umbul, yang disebut seri-seri.
Masing-masing orang duduk ditempatkan makan/Laggang berdasarkan kasta dalam suku, bagian paling ujung barat sebagai kepala meja di tempati oleh raja/Kepala suku. Semua makanan dan minuman dihidangkan diatas Tanah. Untuk menyelesaikan makan, tidak boleh ada orang yang menghabiskan makan sebelum ada perintah dari kepala suku. Sebanyak apapun dan secepat apapun makanan yang kita makan, harus sisakan satu sendok sambil menunggu perintah kepala suku. Jika sudah ada perintah ini; “Wenang marung, pi kaisang gai” (orang tua dong, kita sendok sudah) barulah orang boleh menghabiskan makanan di piring masing-masing.
Setelah semua prosesi adat di kebun selesai, warga kemudian melakukan Leli sambil berjalan menuju rumah adat, mereka membawa daun bambu dan daun buluh yang mengelilingi tempat makan/Laggang sebagai simbol bulir padi yang disebut begul. Daun-daun yang mereka bawa itu diambil oleh keluarga raja kemudian ditukarkan dengan hadia yang telah disiapkan oleh suku raja. Dipercaya bahwa, jika suku raja tidak mengambil atau menukar daun-daun yang mereka bawa dengn hadiah berupa piring, gelas ataupun kain, selimut dan pakaian, maka kebun raja yang ditanami tersebut tidak akan menghasilkan padi atau akan terjadi gagal panen.**
Setelah empat bulan berlalu, yaitu pertengahan bulan April hingga pertengahan bulan Mei adalah masa panen bagi semua orang Pantar, masa panen padi biasa disebut dengan istilah pungut padi, kalau hasil pungutnya baik kami menyebutnya ini tahun baik atau dalam bahasa daerah Lamma disebut Tunnu akku, dan jika hasil panennya buruk atau gagal panen, kami menyebutnya tahun tidak baik atau tunnu yasa.
Sistem pungut padi juga dilakukan secara beramai-ramai, pantun-pantun adat dilantunkan saat mereka memungut padi, pungut padi dilakukan setiap hari sampai lumbung-lumbung dipenuhi dengan hasil panen. Setelah lumbung-lumbung dipenuhi dengan hasil panen, kami menghitung berapa banyak atau berapa blek hasil panen yang diperoleh pada tahun ini.
Jika tahun baik, hasil panen satu tahun biasanya cukup untuk kebutuhan makan satu tahun. Jika tahun tidak baik maka ubi dan jagung menjadi makanan pengganti nasi.
Kemudian pada bulan Mei kami orang-orang Pantar mulai mempersiapkan perpuluhan dari hasil panen tahun itu, kemudian berbondong-bondong membawa perpuluhan padi dan jagung ditaruh di bawah Altar Gereja.
Itulah tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang kami yang diwariskan turun temurun kepada kami dan kami masih lakukan sampai dengan hari ini.

BERBURU, meski rusa dilindungi, tetapi berburu rusa merupakan tradisi terbaik bagi laki-laki Pantar. Tradisi ini dilakukan oleh semua laki-laki Pantar. Setelah membersihkan ladang atau kebun mereka yaitu pada pertengahan bulan Oktober, Laki-laki Pantar baik remaja, dewasa ataupun orang tua semuanya sibuk mempersiapkan busur dan anak panah mereka untuk berburu dan membuktikan diri sebagai laki-laki perkasa.
Di wilayah Pantar Tengah, Pantar Barat, dan Pantar Barat Laut (Lamma -Bi’ang wala) ada beberapa tempat buru yaitu;
Is habbang ala, Yekang Ala, Bilawang Ala, Brabang ala, Uyang ala, Soyang Ala, dan Ata Ala (Pulau rusa) masing-masing tempat buruh itu memiliki tuan buru/Ala gianing.
Waktu dan tempat berburu ditetapkan oleh orang yang diakui secara adat dan budaya sebagai tuan buruh atau biasa disebut dengan ala gianing. Setelah Ala gianing menetapkan waktu yang tepat, ia menyampaikan pesan kepada orang-orang dalam satu kampung ataupun orang-orang Kampung lain dengan cara mengirim siri pinang. Siri pinang yang dikirim atau diberikan kepada Tuan buru/ala gianing yang lain itu pertanda waktu berburu akan segera dilakukan. Saat menerima siri pinang kiriman Ala gianing, dengan sendirinya penerima mengetahui jadwal maupun tempat berburu, karena dalam kiriman siri pinang tersebut tersimpan simbol-simbol atau pesan-pesan yang dapat diketahui oleh orang/ala gianing yang menerima pesan siri pinang itu. Simbol-simbol itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yaitu Ala gianing yang ada di setiap kampung.

Sehari sebelum hari yang ditentukan tiba, Tuan buru/ala gianing sudah menutup lubang yang dipercaya sebagai jalan rusa keluar ataupun masuk untuk bersembunyi, lubang itu hanya diketahui oleh Tuan buru/ala gianing secara gaib, tidak bisa dilihat oleh orang lain dengan mata kosong.

Pada saat jadwal buru tiba orang-orang Pantar baik laki-laki tua maupun muda sudah berada di lokasi buru sebelum fajar menyingsing. Mereka berdiri dan bersembunyi di setiap tempat yang diketahui sebagai satu-satunya jalan rusa, tempat orang-orang bersembunyi itu dalam bahasa Lamma disebut Os dan tabaiya ya nukku.
Anjing-anjing mulai dilepaskan dan disuruh ke dalam hutan. Anjing mulai menggong-gong dan mengejar rusa, rusa pun keluar berlari tanpa arah, saat itulah mulai tercipta suatu adegan yang sangat indah untuk ditonton, dengan gagah berani laki-laki Pantar baik tua maupun muda dengan parang di pinggang, busur panah di tangan mereka berlari, melompat, mengejar sambil membidik sasaran, melepaskan anak panah ke sasaran rusa bahkan jarak 100 meter bidikan panah orang Pantar tepat sasaran. Saat bidikan anak panah kena sasaran, mereka akan berteriak memanggil nama sakti nenek moyang mereka. Dipercaya bahwa apabila nama nenek moyang yang mereka panggil itu menyertai mereka, maka rusa yang terkena anak panah itu tidak akan berlari tetapi langsung mati di tempat.
Setelah selesai berburu, mereka mulai pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka akan bertemu dan berkumpul di suatu tempat yang disebut taddang ullung. Di tempat itu orang-orang Pantar akan berbagi cerita, berbagi siri pinang, berbagi tembakau dan daun koli. Setelah mereka melepas lelah kemudian mereka masing-masing kembali ke kampung halaman mereka masing-masing.
Sampai di kampung halaman, rusa hasil buruan itu akan diberikan kepada kakak sulung sebagai tanda hormat dan tanda berbakti kepada kakak sulung. Tanduk rusa jantan hasil buruan lalu dipajang di ruang depan rumah kakak sulung. Setiap tanduk rusa yang terpajang merupakan kebanggaan tersendiri bagi setiap laki-laki Pantar, tanduk rusa hasil buruan itu juga sebagai bukti keperkasaan setiap laki-laki Pantar.

Penulis: Jemi Koly ( Jecko )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *